ARAH PENGEMBANGAN PARIWISATA BALI

Sumber gambar: http://www.wisatamurahbali.info/pantai-kuta-si-ikon-pariwisata-bali/
Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Latar Belakang

Sebenarnya tidak dapat disangkal lagi bahwa pariwisata Bali ditopang oleh pariwisata budaya yang sangat kental dan tentu saja oleh alamnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kesanggupan dan kemampuan masyarakat Bali dalam mengakomodir kearifan lokal dan budaya yang mengemuka dalam kehidupan masyarakat Bali pada umumnya dan masyarakat Hindu di Bali pada khususnya. Hal tersebut tidak dapat dihindari sebab, masyarakat Hindu di Bali terutama ajarannya tentang Tri Hita Karana terlihat ingin mengakomodasikan segala pernik budaya yang menjadi bagian dari masyarakat di Bali. Tentunya hal ini menjadi berbeda ketika masyarakat Bali semakin menunjukkan dimensi pluralitasnya seperti keadaannya sekarang ini. Dewasa ini tidak dapat disangkal juga bahwa kehidupan masyarakat Bali sudah menginjak pada kedewasaan yang semakin penuh dengan atas sikap terbuka dan toleran atas masyarakat Bali yang non-Hindu untuk menjadi bagian dari masyarakat Bali yang beragama Hindu yang sudah menetap dan hidup di pulau Bali sejak berabad-abad lalu meskipun pada awalnya mereka tidak mengenal istilah Hindu sebab, mungkin lebih dikenal istilah lain yang merujuk pada identitas kehinduan. Identitas keagamaan  masyarakat yang sebenarnya sudah menganut agama Hindu menyebut dirinya sebagai penganut agama Tirta (water religion) (lihat Kutanegara dan Putra, 1999:41), mengapa demikian?Karena mereka sangat menghormati dan sangat menghargai eksistensi air yang dalam bahasa Bali disebut dengan Tirta.

Perkataan Tirta dalam bahasa Bali berarti air. Air mendapatkan tempat terhormat dalam praktek keagamaan Hindu di Bali mengingat peran penting air dalam pelaksanaan atau praktek keagamaan tersebut. Di lain pihak ketersediaan air menjadi jaminan penting dalam praktek keagamaan tersebut disamping tentu saja dalam praktek kehidupan yang berbasis pertanian (seperti penerapan sistem subak). Sumber daya air menjadi faktor penting dalam praktek keagamaan Hindu menjadikan krama (umat) Hindu di Bali meletakkan sumber daya air menjadi salah satu aspek yang dipelihara sedemikian rupa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Bali. Namun, apa yang terjadi akhir-akhir ini dipandang cukup mengkhawatirkan sebab, sumber daya air semakin tergerus dalam arus pusaran ekonomi pariwisata yang terus menggeliat dan menghampiri bahkan menempel kehidupan masyarakat yang beragama Hindu di Bali sehingga menjadikan masyarakat Hindu di Bali tersebut semakin kehilangan kendali dalam upaya untuk mempertahankan sumber daya air yang semakin terbatas. Mereka semakin liar melakukan transaksi jual tanah namun kesulitan untuk membeli kembali tanah yang lain karena harga jual yang lebih rendah daripada harga beli kembali terutama di wilayah lahan yang terjual sebelumnya. Sudah barang tentu hal ini menjadi catatan kritis tersendiri bagi peneliti dalam menyikapi kenyataan tersebut sebab, tidak jarang dapat diduga bahwa tanah yang mereka jual adalah tanah dengan sumber daya air yang cukup baik ataupun bahkan dapat diduga sangat baik sebab, tidak jarang pula tanah yang mereka jual itu rupanya tidak jarang merupakan lahan persawahan yang subur dengan daya serap air tanah yang relatif tinggi.

Selanjutnya dapat disebutkan persoalan krusial lainnya yakni bagaimana peran investor di bidang perhotelan dengan semangat juang yang tinggi berupaya keras untuk menguasai kepemilikan lahan secara legal sehingga menjadikan mereka lebih leluasa untuk melakukan pembangunan hotel dengan pelbagai kualitas dan kualifikasi serta standar yang mereka mampu untuk dibangun dengan dana yang mereka miliki sekalipun sebenarnya dana yang mereka miliki itu sebenarnya juga bagian dari hutang mereka kepada pihak ketiga seperti pihak perbankan yang rela membiayai pembangunan hotel bahkan rela pula membiayai upaya pembelian lahan dengan catatan lahan tersebut segera diwujudkan dengan pembangunan hotel. Hal ini sebenarnya menyalahi aturan peminjaman uang di bank yang sedianya hanya diperuntukkan untuk pembangunan fisik bukan untuk pembelian tanah. Akan tetapi, praktek seperti ini tampaknya kurang dicermati dengan baik dan seksama oleh pihak pemerintah provinsi Bali maupun pemerintah daerah kabupaten dan kota yang ada di Bali karena tergiur dengan asupan dana yang berupa anggaran tak terduga (seperti kemungkinan terjadinya mark up harga tanah ataupun dugaan penyuapan dan korupsi di samping adanya kemungkinan jangka panjang dengan iming-iming peningkatan pendapatan asli daerah). Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa pembangunan fisik bidang perhotelan tidak dapat ditolak jika dikaitkan dengan perkembangan dunia pariwisata di dunia, bahkan dimanapun juga mengingat peran penting hotel dengan segala fasilitasnya yang dapat memberikan kenyamanan (comfortable) dalam memberikan kemungkinan lama tinggal (long stay) yang lebih panjang bagi para wisatawan (tourists) sehingga memiliki konsekuensi logis peningkatan pendapatan bagi pengusaha bidang perhotelan dan otomatis juga dianggap meningkatkan pendapatan asli daerah. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah pendapatan asli daerah hanyalah berupa pajak yang ditentukan berdasarkan pada luas bangunan ataupun luas tanah yang ditentukan dengan peraturan perundangan yang berlaku dalam bentuk pajak bumi dan bangunan (PBB) sedangkan tingkat hunian tidak menjadi pertimbangan bagi pembayaran pajak selama ini. Jelas hal ini menunjukkan adanya ketidakadilan yang cukup fatal bagi keadilan perekonomian pariwisata yang telah berlangsung selama ini di Bali. Semakin bervariatifnya kehidupan masyarakat Bali yang juga turut serta atau berpartisipasi dalam mengembangkan dan menikmati kue pembangunan pariwisata di Bali sekalipun patut diduga banyak di antara mereka tidak memahami esensi ataupun hakikat pariwisata Bali yang sesungguhnya. Mereka yang menikmati kue pariwisata Bali itu hanyalah berorientasi pada upaya meningkatkan pendapatan mereka guna kelangsungan hidup pribadi (individu) dan keluarga (kelompok).

Sepertinya masalah tersebut masih tersimpan dan terendap dalam praktek perekonomian pariwisata di Bali sampai detik ini sehingga seyogyanya pihak yang terkait terutama dalam hal pemerintah provinsi Bali, pemerintah tingkat kabupaten dan kota seharusnya segera mengambil tindakan dan keputusan penting bagi kelangsungan perekonomian pariwisata Bali. Hal ini perlu dikemukakan mengingat perekonomian pariwisata di Bali masih dimungkinkan untuk berkembang secara kualitatif mengingat pula kepentingan pariwisata di Bali pada kenyataannya tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Bali semata melainkan pula bagi kehidupan masyarakat di luar Bali termasuk masyarakat internasional dan dunia yang sebenarnya juga banyak telah mengeruk ataupun sekedar mengambil keuntungan dari kehidupan masyarakat Bali yang unik, religius dan berbudaya yang khas dengan karakter yang sangat berbeda dengan pelbagai masyarakat dunia manapun di dunia. Bahkan jikapun masyarakat Bali dikatakan mayoritas sebagai masyarakat yang beragama Hindu, namun kenyataannya kehidupan religius masyarakat Hindu di Bali sangat dapat dibedakan karakter kesehariannya dengan masyarakat Hindu misalnya yang terdapat di India yang dikatakan sebagai sumber dan asalnya ajaran Hindu di dunia sampai saat ini. Itulah sebabnya peneliti merasa perlu memperhatikan eksistensi praktek keagamaan Hindu di Bali nantinya akankah sepenuhnya mengikuti arus praktek keagamaan global Hindu sebagaimana berlaku di India sebagai sumber dan asalnya agama Hindu tanpa memperhatikan lagi kearifan lokal yang telah lama terbentuk, berurat dan berakar dalam masyarakat Hindu di Bali.

Adapun analisis dalam karya ilmiah ini sebagian menggunakan kerangka analisis tokoh ekonomi dunia yaitu Amartya Sen. Selanjutnya perlu diungkapkan sedikit tentang Amartya Sen. Siapa beliau?Beliau adalah seorang ekonom kelas dunia dan diakui dalam dunia internasional sebagai seorang filsuf atas karya-karyanya yang banyak mempengaruhi para pemikir ekonomi dunia dan para filsuf khususnya yang berkutat pada upaya untuk mengkaji moralitas secara ilmiah filsafati yang seringkali disebut dengan bidang etika. Etika merupakan salah kajian penting dalam ranah pemikiran ilmiah filsafati atau ilmiah filosofis sebab, etika menjadi salah satu tiang pokok atau soko guru yang menegakkan disiplin filsafat menjadi sebuah disiplin yang sangat penting dalam rangka mencerahkan kehidupan moral warga manusia sebagai insan yang memiliki kehidupan yang bermartabat baik di mata manusia sendiri, sesamanya, dan kemungkinan di mata Tuhannya. Inilah sebabnya bidang etika dalam kajian filsafat mempunyai kedudukan penting untuk meningkatkan kualitas hidup manusia terutama dalam konteks kehidupan individu dan sosial baik dalam ranah hidup individu itu sendiri, antar individu dan hubungan individu dengan alam sekitarnya bahkan alam secara universal dan Tuhan. Konsekuensi logis dari kesadaran sedemikian itu adalah terbukanya kemungkinan untuk mengangkat sebuah permasalahan penting terkait dengan penelitian ini yakni bagaimana pandangan kritis Amartya Sen tentang Ilmu Ekonomi memiliki relevansi terhadap perkembangan perekonomian pariwisata Bali. Selain daripada itu adalah dapat dimunculkan permasalahan lain yakni bagaimana relevansi pemikiran Amartya Sen tentang Ilmu Ekonomi memiliki pengaruh jika diterapkan dalam kancah perekonomian pariwisata Bali yang penuh dengan dinamika baik secara internal maupun secara eksternal. Secara internal berarti pariwisata Bali tidak dapat dilepaskan dari eksistensi masyarakat Bali yang kebetulan sampai saat ini masih mayoritas beragama Hindu yang dengan ketat dan kuat masih mempertahankan adat dan budayanya dalam rangka substansi kehidupan praktek keagamaan dan dalam rangka pragmatis memberikan nilai tambah bagi kehidupan ekonomi bersama. Secara eksternal berarti pariwisata Bali ternyata telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat nasional dan internasional yang nota bene bukanlah merupakan masyarakat yang memiliki akar budaya yang kuat sesuai dengan tradisi masyarakat Hindu di Bali pada umumnya, namun memiliki kepentingan ekonomi yang kuat dan mengakar pada nilai-nilai kapitalisme dengan pelbagai kepentingan sosial, ekonomi, budaya dan politik. Itulah sebabnya penelitian ini menjadi penting untuk ditindaklanjuti sebagai sebuah penelitian ilmiah filsafati atau filosofis dengan tujuan dapat memperoleh kejelasan dan kemanfaatan yang optimal demi kemajuan perekonomian pariwisata Bali pada khususnya dan bagi kemajuan perekonomian Indonesia bahkan dunia pada umumnya.

Tulisan selengkapnya dapat dibaca disini

Be the first to comment

Leave a Reply