EPISTEMOLOGI RANGGAWARSITA

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ranggawarsita adalah tokoh abad 18 yang cukup disegani karena banyak ramalannya  ternyata menjadi kenyataan di kemudian hari. Ramalan tersebut berisi tentang situasi atau “jaman edan” yang terjadi pada abad 19 sampai sekarang. Beberapa hal yang mempengaruhi kehidupan Ronggo Warsita antara lain ketika dalam pengasuhan sang kakek, R. Tumenggung Sastronegoro yang telah meramalkan kalau nanti cucu kinasihnya ini akan menjadi seorang pembesar setaraf dengan kakek buyutnya. Untuk mewujudkan ramalannya ini, sang kakek kemudian menitipkan Bagus Burhan ke Kyai Imam Bestari pemilik pondok pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari, Ponorogo. Namun Ronggo Warsita muda yang mempunyai julukan Ki Bagus Burhan lebih menyukai laku spiritual dimana dengan kekerasan hati dan ketekunannya, maka setelah menjalani tirakat selama 40 hari 40 malam di kedung Watu, tanpa makan dan minum, kecuali sesisir pisang setiap harinya, akhirnya ada hasil yang dia peroleh. Dari tirakatnya ini Raden Bagus memperoleh wisik, yakni ditemui eyang buyutnya.

Di akhir hayatnya, delapan  hari sebelum ajal menjemputnya  pujangga Ronggo Warsita telah menulis berita kematian tersebut dalam Serat Sabda Jati. Dalam serat Sabda Jati tertuang kemampuan Ranggawarsita dalam meramal tentang waktu kematian dirinya, namun kematian Ronggowarsito masih menjadi kontroversi, ada yang percaya bahwa kematianya itu sudah diramal, akan tetapi bila dilihat dari keadaan yang ada kemungkinan Ranggawarsita dibunuh karena adanya perubahaan kekuasaan, dan ada juga yang mengatakan bahwa Ranggawasita dibunuh oleh Pakubuwono IX yang dibantu Belanda karena Pakubuwono IX takut akan Ranggawarsita bisa menghasut rakyat untuk menggulingkan pemerintahannya, itu menurut Suripan Sadi Hutomo dalam surat kabar Sinar Harapan, 15 Desember 1979. namun hal itu disanggah oleh kalangan Mangkunegaran yang menyatakan bahwa Ranggawarsita memang waskitha dan tau akan hari kematianya, dan kematianya itu ” emating pati patitis”. Persoalan ketepatan suatu ramalan menunjukkan kebenaran suatu pengetahuan, dimana pernyataan-pernyataan dibuktikan dalam kesesuaiannya dengan fakta empiris.

Pengetahuan adalah hasil dari upaya manusia untuk mengetahui objek yang ingin diketahuinya. Kebenaran pengetahuan manusia berkembang seiring dengan perkembangan kemampuan manusia untuk mengetahui serta sarana untuk mengetahui, dengan kata lain corak dan kebenaran pengetahuan manusia tergantung pada manusia yang menghasilkannya. Beberapa orang mempunyai kemampuan mengetahui kejadian yang akan datang (futurolog) dengan baik. Kemampuan mengetahui tersebut sangat berragam corak metode, sarana, dan jenis pengetahuan yang dihasilkannya.

Tulisan lengkap dapat anda unduh disini

1 Comment

  1. sebuah tulisan yang menyentuh karena mampu mengangkat kekayaan budaya Nusantara yang tersebar, sehingga perlu dilanjutkan dengan penelusuran lebih jauh tentang tokoh-tokoh lainnya seperti: Ki Ageng Suryomentaram, dan yang lainnya.

Leave a Reply