KONSEP DALIHAN NA TOLU MASYARAKAT BATAK DALAM KAITANNYA DENGAN PENINGKATAN FUNGSI KELUARGA

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat memegang peranan penting sebagai aset bangsa. Keluarga bukan hanya dianggap sekadar sasaran pembangunan, tetapi merupakan pelaku atau subjek pembangunan. Untuk itu perlu diatur tentang pembangunan keluarga sejahtera, terutama dalam mempersiapkan sumber daya anggota keluarga yang potensial.

Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera mensyaratkan betapa pentingnya pembangunan keluarga untuk meningkatkan kualitas keluarga. Pembangunan berwawasan keluarga merupakan pembangunan yang dilakukan secara seksama mempertimbangkan dimensi keluarga sebagai sasaran dan pelaku. Hal ini sekaligus mengarah pada peranan keluarga sebagai pengembang sumber daya manusia potensial dengan mendayagunakan keluarga untuk mempertajam potensi dasar seseorang.

Pembinaan keluarga merupakan langkah penting yang akan menentukan kondisi masyarakat secara keseluruhan. Akselerasi sosial yang terjadi akibat modernisasi dan urbanisasi memang menantang nilai-nilai keluarga (family values), karena manusia kini telah dikotak-kotakkan sebagai satu unit kecil dari sebuah mesin raksasa produksi. Sebagian orang telah mengalami keterasingan hidup karena hanya dihargai pada sisi materi belaka, sedang kebutuhan batin dan sosialnya terabaikan. Bila kondisi keterasingan itu dibiarkan terus berlanjut, maka akan memunculkan gejolak tersendiri, sekurang-kurangnya akan memperbesar penyimpangan dan kerawanan sosial. Untuk mencegah dan meredam problema sosial itu, maka kondisi keluarga harus dimantapkan. Keluarga turut berperan sebagai jaring pengaman sosial dengan memacu dan melesatkan aspek kreatif dan produktifnya, agar penanganan masalah kemiskinan dan pengangguran bisa dimulai dari institusi terkecil. Keluarga yang mandiri dan berdaya benar-benar menjadi tumpuan harapan masyarakat, bukan semata beban yang harus ditanggung negara.

Namun apa yang terhampar di hadapan justru menampakkan banyak persoalan yang memprihatinkan dalam masyarakat yang justru bersumber pada keluarga. Meningkatnya angka perceraian, KDRT, penelantaran anak, semakin tingginya angka aborsi; merupakan beberapa problem sosial yang semakin mempertanyakan fungsi keluarga. Sementara di sisi lain, Indonesia memiliki banyak sekali nilai-nilai keluarga yang luhur yang terdapat dalam kearifan lokal masyarakat Indonesia. Kondisi yang memprihatinkan ini tentu perlu segera diatasi.

Tulisan ini memfokuskan diri untuk melihat nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Batak dengan konsep Dalihan Na Tolu yang dimiliki yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat Batak. Dipilihnya budaya Batak dengan Dalihan Na Tolunya karena keunikan budayanya yang demikian kuat dalam memberi perhatian pada keluarga. Tulisan ini berupaya menelusur konsep keluarga yang khas Indonesia yang nantinya berguna dalam mewujudkan peningkatan fungsi keluarga dalam mengatasi problem-problem sosial yang bersumber dari keluarga dengan berbasis kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Penggalian nilai-nilai keluarga yang berdasar pada kearifan lokal masyarakat Indonesia menjadi urgen untuk dilakukan di tengah arus modernitas yang mengikis kesakralan keluarga. Pelemahan institusi keluarga berdampak pada munculnya persoalan sosial yang jika tidak ditangani secara baik akan berakibat pada lemahnya ketahanan sosial masyarakat. Kembali pada konsep keluarga khas Indonesia yang sarat nilai-nilai moral, sosial dan religius menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan.

Tulisan selengkapnya dapat dibaca disini

Be the first to comment

Leave a Reply