Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Ritual Katoba pada Masyarakat etnik Muna di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara

Sumber gambar: https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwio3PfkgPfTAhUDvo8KHU8hCekQjhwIBQ&url=http%3A%2F%2Fetnisandakara.blogspot.com%2F2014%2F06%2Fkatoba.html&psig=AFQjCNGBILMyFAstUE6Ve-r-n3NTv_JDkA&ust=1495113179837269
Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Persoalan karakter bangsa dewasa ini menjadi sorotan tajam bagi masyarakat. Sorotan tersebut mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik. Selain di media massa, para pemuka masyarakat, para ahli, dan para pengamat pendidikan, dan pengamat sosial berbicara mengenai persoalan budaya dan karakter bangsa di berbagai forum seminar, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupn politik yang tidak produktif, dan sebagainya menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar, dan di berbagai kesempatan. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat (Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum 2010: 1).

Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi, masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yangharus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UUSisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan danmembentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangkamencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi pesertadidik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang MahaEsa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional itumerupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkanoleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasionalmenjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk darihasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagailandasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atassejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, danhormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkankarakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakterbangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan (Kemendiknas, 2010: 3).

Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas  memiliki makna; bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Makna berkarkteradalah berkepribadian; berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak. Jadi, dapat dikatakan bahwa individu yang berkarkter baik adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Allah Subhanahu wa Taala (dalam Syafri, 2012: 7).

Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan seseorang untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, mewujudkan dan menebar kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Pendidikan karakter bertujuan mengembangkan karakter peserta didik agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur pancasila.

Menurut Endraswara (2013: 1), pendidkan karakter identik dengan membentuk sikap dan perilaku mulia yang sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak pada khususnya. Dalam wawasan antropologi pendidikan, karakter merupakan watak mulia yang dipelihara setiap orang. Kneller (dalam Endraswara, 2013: 1) menyatakan bahwa “antropology is the study of man and his ways of living.” Pernyataan seorang ahli antropologi pendidikan ini mengandung pesan penting bahwa cara hidup manusia tidak akan lepas dari karakter dasarnya. Jika manusia dapat mengendalikan karakter, misalnya watak amarah, tentu dalam pendidikan akan berjalan baik. Sebaliknya, jika karakter dasar amarah itu yang dikedepankan, bukan tidak mungkin akan terjadi perselisihan di antara insana pendidikan (Endraswara, 2013: 2).

Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu menghendaki suatu proses yang berkelanjutan yang dapat dilakukan melalui berbagai upaya. Salah satu upaya tersebut adalah melalui tradisi yang bersumber dari kearifan lokal. Quarich Wales (dalam Rahyono, 2009: 7) merumuskan local genius (kearifan lokal) sebagai “the sum of the cultural characteristics which the vast majority of people have in common as a result of their experiences in the early life’. Menurut Rahyono (2009:7) pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam definisi tersebut adalah (1) ciri-ciri budaya, (2) sekelompok manusia sebagai pemilik budaya, dan (3) pengalaman hidup yang menghasilkan ciri-ciri budaya tersebut. Pokok-pokok pikiran tersebut menunjukkan bahwa local genius merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh sekelompok (etnik) manusia yang diperoleh melalui pengalaman hidupnya serta terwujud dalam ciri-ciri budaya yang dimilikinya.

Pengembangan dan penerapan kearifan lokal dalam pendidikan karakter menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka pencerdasan bangsa. Menurut Poespowardojo (dalam Rahyono, 2009: 9) local genius mmeiliki ketahanan terhadap unsur-unsur yang datang dari luar dan mampu berkembang untuk masa-masa mendatang. Kepribadian suatu masyarakat ditentukan oleh kekuatan dan kemampuan local genius dalam menghadapi kekuatan dari luar. Jika local genius hilang atau musnah, kepribadian bangsa pun akan memudar.

Menurut Rahyono (2009: 9) faktor-faktor yang menjadikan pembelajaran dan pemelajaran kearifan lokal memiliki posisi yang strategis adalah sebagai berikut. Pertama, kearifan lokal merupakan pembentuk identitas yang inheren sejak lahir. Kedua, Kearifan lokal bukan sebuah keasingan bagi pemiliknya. Ketiga, keterlibatan emosional masyarakat dalam penghayatan kearifan lokal kuat. Keempat, pemelajaran kearifan lokal tidak memerlukan pemaksaan. Kelima, kearifan lokal mampu menumbuhkan harga diri dan percaya diri. Ketujuh, kearifan lokal mampu meningkatkan martabat bangsa dan negara.

Kearifan lokal dapat dijadikan media dalam pembelajaran pendidikan karakter pada setiap daerah di Indonesia. Salah satu kearifan lokal pada masyarakat etnik Muna di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan warisan adiluhung adalah ritual katoba. Ritual katoba merupakan salah satu ritus peralihan dalam siklus hidup pada masyarakat etnik Muna yang masih dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat etnik Muna baik di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara maupun di luar Kabupaten Muna  Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ritual katoba merupakan budaya lokal masyarakat etnik Muna yang bertujuan untuk memperbaiki sikap dan perilaku anak agar tidak melakukan suatu tindakan berupa larangan yang bertentangan dengan hukum dan peraturan agama Islam (Sumaryo, 2010: 7). Melalui ritual katoba, seorang anak akan memperoleh pedoman hidup sesuai peraturan agama Islam dalam proses kehidupannya sehari-hari, dan segala bentuk pelanggaran yang pernah dilakukannya harus disesali, dihentikan, dan ditobati serta berjanji pada dirinya untuk tidak mengulanginya lagi. Selain itu, setelah mengikuti proses traidi lisan katoba, ia diharapkan memiliki akhlakul karimah dan memiliki karakter yang baik dan langsung diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari.

Terkait dengan uraian di atas, Syafri (2012: 7) mengungkapkan bahwa melihat beberapa kasus pelanggaran akhlak yang terjadi pada peserta didik, tampak jelas tidak tertanamnya dengan baik mana akhlak yang mesti dijadikan karakter dan mana akhlak yang terlarang. Padahal seseorang akan dikatakan memiliki iman yang benar dan sesuai syariat Islam jika ia memiliki karakter akhlak yang baik. Jadi, akhlak yang baiik merupakan tanda kesempurnaan iman.

Pelaksanaan ritual katoba pada masyarakat etnik Muna di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara bertujuan untuk menanamkan keimanan yang kuat kepada anak sehingga ia dapat membedakan hal-hal yang baik dan hal-hal yang tidak baik, terutama mengerjakan perintah agama dan menjauhi larangan agama. Tujuan ritual katoba juga sejalan dengan fungsi pendidkan karakter yang dikemukakan oleh Kemendiknas (2011: 10) yaitu pengembangan potensi dasar, agar “berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik“ untuk memperbaiki perilaku yang kurang baik dan penguatan perilaku yang sudah baik dan sebagai penyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila.

Menurut Zubaedi (2011: 18), pendidikan karakter mempunyai tiga fungsi utama. Pertama, fungsi pembentukan dan pengembangan potensi. Fungsi ini membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar berpikiran baik, barhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila. Kedua, fungsi perbaikan dan penguatan. Fungsi ini memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaring. Fungsi ini memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Tulisan lengkap dapat anda unduh disini

Be the first to comment

Leave a Reply