POLITICS OF IDENTITY AND LOCAL WISDOM: KETIKA ALIRAN PIROKLASTIK MELAWAN WEDHUS GEMBEL

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

(Disampaikan pada International Conference on Nusantara Philosophy 2016, Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta)

Selama puluhan tahun, kearifan leluhur di dusun Kinahrejo, tempat tinggal almarhum Juru kunci Mbah Maridjan, ditantang atau dipandang rendah oleh para ahli vulkanologi, aturan pemerintah dan agama. Maka, lama kelamaan, masyarakat Kinahrejo pun mulai meragui kearifan leluhur mereka yang dikembangkan dari pengamatan alam atau diwarisi dari Keraton Yoygakarta. Dengan melaksanakannya, mereka takut dianggap melayani setan. Dengan tidak melaksanakannya, mereka takut mengabaikan alam dan Sultan. Sebab Sultannya yang mengangkat juru kunci dan menugaskannya untuk mengantar sesajen ke atas Gunung Merapi dalam upacara labuhan setiap tahun.  Dalam suasana kegelisahan dan kebingungan itu, ditambah budaya instan dan jiwa dagang yang masuk sampai rumah juru kunci sendiri, dusun Kinahrejo akhirnya dihancurkan oleh letusan Gunung Merapi. Inilah tragedi nyata masa kini yang saya coba  beberkan setulus mungkin dalam kisah “Babad Ngalor-Ngidul”.

JUNI 2006
GEMBALA- GEMBALA WEDHUS GEMBEL

Seperti kepak sayap kupu-kupu malam yang konon dapat mengalunkan air telaga di ujung fajar yang jauh, geseran lempeng tektonik di dasar laut juga telah mengaktifkan kembali tekanan di dapur gunung yang magmanya makin hari makin matang. Balai Gunungapi pun meningkatkan kembali status Merapi menjadi siaga. Namun kali ini, para penduduk Kinahrejo dibiarkan tinggal di tempat mereka karena pemerintah daerah sedang sibuk mengurusi ratusan ribu korban gempa di dataran selatan.

Bapak-bapak Kinahrejo telah mengadakan ronda. Setiap malam mereka bergiliran duduk di atas tikar yang digelar di halaman rumah juru kunci, ditemani segelas kopi hitam, sebaris batang kretek, dan sebasi ubi rebus. Di satu tikar lain, terletak kuda-kudaan bambu yang mereka tunggangi pada siang hari ketika menari jatilan untuk menghibur anak-anak dan ibu-ibu dalam suasana kesurupan. Kuda-kudaan itu sedemikian liar sehingga tidak lagi tampak bagai anyaman bambu, melainkan kuda-kuda halus dinaiki seregu jin yang konon hilir-mudik antara gunung dan laut membawa pesan rahasia dalam bahasa Ngalor-Ngidul. Kini mereka tergeletak diam di atas tikar seperti benda mati. Hanya bau kemenyan dalam gegelapan menandakan kuda-kuda jatilan itu masih bernyawa, bahkan ikut jaga malam sebagai ajimat yang dapat menangkal rasa takut.

Demikian bapak-bapak menjaga dengan mata telanjang di malam bumi. Mata mereka tajam dan waspada, menatap ke arah kawah yang tampaknya amat dekat, serupa tonjolan-tonjolan dari tubuh mereka. Ketika mendung, satu-satunya alat pengamatan adalah daun telinga mereka, yang sudah terlatih mengetahui aktivitas gunung melalui gemuruhnya. Bila badai dan guntur menyambar malam buta, mereka bisa membedakan bunyi batu atau bunyi petir. Seperangkat sirene pernah dipasang oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, tapi karena dikendalikan dari jarak jauh di luar kewenangan mereka, ini tidak terhitung sebagai alat mandiri mereka.

Ilmu pengamatan bapak-bapak ronda itu dianggap ngelmu ngawur oleh kepala Balai Gunungapi. Bapak-bapak itu memang belum akrab dengan istilah “aliran piroklastik”. Awan panas yang meluncur dari puncak mereka namai wedhus gembel, alias domba gimbal, seolah bahaya Merapi adalah binatang buas yang perlu mereka jinakkan. Begitu hewan liar itu keluar dari kawah, kepalanya sudah tertutup bulu hitam yang membusung dan menggembung dengan kecepatan mengerikan, menyesaki langit, menelan habis mega-mega yang paling ganas. Namun, kalau pasukan ronda mengungkapkan kata wedhus gembel, kasih sayang mengalahkan rasa takut mereka. Mereka sebenarnya bukan pemantau gunung, melainkan gembalanya. Asal-usul domba itu tidak diceritakan. Tapi entah, apakah ia melarikan diri malam sebelum Hari Korban dan akibatnya dikutuk menjadi domba gimbal ? Ataukah ia sungguh dilahirkan di alam lepas dengan bulu begitu lebat dan kusut?

Yang jelas, jika wedhus gembel tiba-tiba keluar, para gembala lekas memukul kentongan bambu yang siap siaga di tikar di sebelah gelas kopi mereka. Bambunya keropong, bunyinya kosong tapi mampu menembus dinding tidur yang paling nyenyak. Ibu-ibu dan anak-anak bakal meloncat turun dari ranjangnya, lantas naik ke dalam bak truk yang siang hari beramai-ramai mengangkut pasir legam hitam sampai ke pesisir biru logam.

APRIL 2008
ZAMAN GEGER 

Namun, makin lama makin sering juru kunci Merapi turun dari gunungnya. Ia merantau ke ibu kota naik pesawat untuk mengisi acara televisi demi promosi ramuan sakti Kubu Bima atau untuk menghias pembukaan cabang baru dari perusahaan jamu termasyhur itu. Sepulangnya, ia bercerita kepada koran lokal betapa hebatnya naik lift hotel berbintang lima tempat ia dijamu secara meriah. Berpura-pura dungu ia, sekaligus melagak. Ialah yang dulu menyatakan dirinya sebagai orang bodoh. Karena katanya: “Kalau orang pintar diberi satu, akan minta dua. Kalau orang bodoh diberi satu, akan disyukuri.”

Namun, kini, ruang tamu penuh dengan sofa dan kursi merah mewah. Para pengunjung datang beramai-ramai dari jauh naik bus full AC. Bukan lagi orang pandai yang mereka ingin sowan, melainkan sosok selebritas. Isteri juru kunci tidak lagi menyajikan teh kental manis kepada mereka sebagaimana layaknya. Gelas-gelas plastik air tersedia di sebuah kardus. Ini adat baru Dusun Kinahrejo yang ternyata telah memasuki peradaban instan. Sekali meneguk gelas air instan, penggemar pulang kecewa karena tidak diizinkan foto-foto bersama idola mereka. Juru kunci memang menolak untuk difoto, meskipun foto-fotonya tampil pada semua badan bus umum di ibukota, bahkan pada jutaan kaleng dan botol ramuan sakti di warung mi dan soto seantero nusantara. Perusahaan jamu termasyhurlah yang memiliki hak tunggal atas citra juru kunci Gunung Merapi.

 Kata orang, kawula-kawula dari Bangsa Halus Merapi telah pergi. Si ular-naga Antaboga telah mengendurkan dekapannya pada Kendit, lalu begitu menelan nasi tumpeng among-among dan segala jenis jenang yang dikhususkan untuk sajen, lenyap ia tanpa pamit. Adapun Nyai Gading Melati, ia sudah menukarkan gaun serba hijaunya dengan celana jin ekstra ketat serta hijab merah muda. Maka ia tidak menampakkan diri lagi dalam mimpi untuk memberitahukan kapan dan ke arah mana letusan akan terjadi karena gaya busana barunya dianggap kurang ramah lingkungan. Bahkan, kedua kakak-adik Empu Rama dan Permati sudah meninggalkan kawah dengan membawa keris pusaka Tanah Jawa sehingga bengkel pandai besi mereka dibiarkan begitu saja nyala tanpa pengawasan. Konon mereka sempat tersinggung karena tidak diperbolehkan lagi membakar dupa. Undang-undang lokal baru itu tidak jelas dikeluarkan oleh siapa. Ini ibarat tren baru yang asal usulnya tidak diketahui tapi menular bagai wabah demam berdarah.

Berbagai orang berpendapat bahwa semuanya itu terjadi gara-gara zaman instan yang sedang mendaulat Dusun Kinahrejo. Maka zaman lambat mulai direnungkan, suatu zaman ketika Dusun Kinahrejo belum mengenal listrik maupun masjid. Makanan instan pun belum dikenal. Warga makan apa yang mereka tumbuhkan: jagung, ubi, singkong, jipang, pisang, alpukat, pepaya, nangka muda. Satu pikulan kayu bakar yang dijual di Pasar Pakem cukup untuk menghidupi serumah tangga selama tiga hari. Bahkan, korek api belum ada. Untuk membuat api dua batang bambu digosok satu dengan lain. Satu-satunya penduduk yang memiliki pemantik bensin adalah si juru kunci. Maka orang Kinahrejo datang ke rumahnya untuk minta “api instan”. Terlepas dari pemantik itu, semua laku di Dusun Kinahrejo memakan waktu.  Jalan instan pun belum ada, maksudnya jalan aspal yang menuju Dusun Kinahrejo. Para tamu harus berjalan kaki melalui sisi barat lereng gunung dan menyeberangi Kali Kuning. Seringkali, setelah perjalanan yang sangat melelahkan itu dan percakapan panjang dengan juru kunci sampai larut malam, mereka menginap di ruang tamu di atas tikar. Meskipun cuaca lembab dingin, kabut dan angin di luar ngeri,  rasanya hangat, tidurnya nyaman karena, entah disadari atau tidak, mereka berada di bawah pengayoman Geger Boyo.

Geger Boyo bukanlah salah satu kawula dari Bangsa Halus melainkan tebing muda yang terbentuk oleh sisa materi vulkanik  dari letusan yang terjadi seabad lampau. Tebing itu serupa punggung buaya yang berbaring tepat di balik rumah juru kunci, dengan mulut terbuka lebar mengarah ke kawah siap menelan wedhus gembel. Barangkali si pendiri permukiman Kinahrejo memilih lokasi ini karena ia pintar mengkaji Geger Boyo sebagai perisai alami melawan serangan awan panas. Itulah salah satu kearifan lokal yang melindungi Dusun Kinahrejo.

Namun Geger Boyo ternyata retak karena gempa, lalu bobol beberapa hari sebelum gugurnya dinding kubah, bulan Juni 2006, dengan membawa perisai melawan awan panas. Kini Dusun Kinahrejo berada di garis terdepan.

Lalu, 26 Oktober 2010, terjadilah letusan.

Januari 2011
TANAH SEGALA KERAKUSAN

Bermula dari pohon durian sangat kecil itu yang ditinggalkan begitu saja. Kemudian muncullah seanak pohon pisang hijau lembut yang lahir secara tulus di dalam hitamnya abu.  Lalu ribuan pohon menyusul. Sebagian dibawa oleh angin, hujan, atau semut, sebagian lain oleh manusia yang bertanam budi. Para pakar bencana terus mengatakan itu gila. Dan mereka benar. Orang memang harus gila untuk ingin menghijaukan kembali tanah bencana. Letusan telah membakar 867 hektar hutan di lereng selatan, termasuk 40 hektar di Dusun Kinahrejo. Angin begitu kencang sehingga lubang yang baru digali dalamnya abu tersumbat bahkan sebelum pohon dapat ditanam, sebagaimana lubang yang digali di pantai oleh seorang bocah lalu lekas terhabus oleh ombak. Seringkali, orang bahkan tidak bisa menggali karena abu yang kena hujan sudah membatu.

Tapi ternyata, semangat hijau itu tak dapat dicegah. Para penaman gila-gilaan ketularan kekuatan Merapi. Setelah menjadi korbannya, mereka mengarahkan kekuatan alam itu pada karya bakti raksasa mereka. Mereka menggotong pohon-pohon kecil dengan terpal yang terentang antara dua batang bambu panjang, semacam tandu. Maka, begitu kabut mulai berbaur, dikira itulah pasukan raja yang naik menolong ratunya yang terluka: Sang Gunung. Di situ terdapat pohon alpukat, kemiri, sengon, sukun, jeruk, pala, mangga, nangka, klengken, sirkaya jumbo, pisang ambon dan mas, bahkan pohon bering yang mungil. Satu-satunya pohon yang mangkir adalah pohon kinah yang namanya dipersembahkan kepada Dusun Kinahrejo, sebab zaman dahulu pohon kinah tumbuh berlimpah-limpah di situ dan merupakan apotek hidup. Kulitnya direbus menjadi ramuan pahit untuk mencegah malaria, daun dan akarnya dapat mengobati serangan saraf, gigitan ular serta kalajengking dan banyak penyakit lainnya.

Namun, para penaman gila-gilaan tidak rindu akan masa yang sudah berlalu. Mereka telah belajar dari kejadian embusan dahsyat: segalanya pasti akan musnah, bahkan pohon kinah. Mereka berusaha untuk menanam jenis-jenis baru yang tumbuh dengan cepat, yang hasil buah dan kayu bisa dipanen dalam waktu yang singkat. Mereka tahu bahwa letusan seringan apa pun bisa membakar semuanya lagi dalam waktu dekat, bahwa Merapi sudah lain. Bertentangan dengan apa yang dikatakan para pakar bencana, mereka tidak bodoh, tidak keras kepala juga. Pikiran mereka tajam. Mereka membiasakan diri dengan bahaya, dengan seni hidup kini dan sini yang bersifat sementara, dengan menyambut ketidakkekalan dan mengembangkan kewaspadaan.  Dalam latihan ini, Sang Gunung adalah Mahaguru mereka. Dan sebagai umumnya dengan seorang guru, pemberian Sang Gurung melebihi tuntutannya. Sebenarnya, para penanam gila-gilaan menghijaukan kembali lerengnya untuk menyatakan syukur. Tapi juga untuk menegaskan hak milik mereka atas tanah leluhur mereka, biarpun tidak bisa dihuni lagi.  Sebab tanah bencana itu sudah menjadi tanah segala kerakusan.

Kerakusan-kerasukan itu bukan hal baru. Sudah lama mereka mendidih diam-diam, bersembunyi. Tapi begitu Merapi meletus, mereka pun meluap. Di mata mereka, Dusun Kinahrejo sudah menjadi daerah tak bertuan sehingga boleh dirampas, karena lawan mutlak mereka, yaitu para penduduk, telah terusir oleh hukum alam. Memang sudah menjadi hak mereka untuk menduduki bumi hangus itu. Kerakusan-kerasukan itu kelihatan bertarung dalam berbagai seminar lintasinstansi pasca-erupsi, sebagaimana di medan perang yang penuh dengan ego-antarbagian, pertentangan kepentingan dan persekutuan curang.

Sebab, jauh di kedalaman tanah Kinahrejo terletak akuifer amat luas yang mengairi   seluruh Kasultanan Yogyakarta. Sebenarnya, keistimewaan kasultanan bukan sultan atau pun rakyatnya, melainkan kandungan air yang rahim itu. Di masa lalu, betapa seringnya pemerintah Order Baru berusaha merampas tanah Kinahrejo dan diperdagangkan kepada perusaan-perusaan air mineral. Ia telah menggunakan segala macam tipu-daya untuk meyakinkan juru kunci Merapi dan masyarakatnya akan kebaikan program transmigrasi. Sia-sia. Juru kunci tidak pernah menurut, berpura-pura bodoh. Ia benar-benar tahu bahwa ia sedang tidur nyenyak  di atas harta karun. Dan dengan demikian, ia melindunginya.

Tapi sekarang, ketika juru kunci tidak ada lagi untuk berpura-pura bodoh dan tanah Kinahrejo sudah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana dalam radius merah yang tidak boleh dihuni, siapa akan melindungi harta karun itu?

(Cuplikan-cuplikan terpilih dari “Babad Ngalor-Ngidul”– KPG 2016)

1 Comment

  1. luar biasa cara pengungkapan Elizabeth Inandiak, seorang berkebangsaan Perancis namun menguasai detil-detil kehidupan lingkungan fisik dan nir-fisik yang ada di Kinahrejo.

Leave a Reply